having fun

having fun

25 April 2009

Miliaria, Diare, Infeksi, Konstipasi dan Bayi Meninggal Mendadak

MILIARIA
Disebut juga Sudamina,liken tropikus, biang keringat, keringat buntet. Miliaria ialah dermatosis yang disebabkan oleh retensi keringat, yaitu akibat tersumbatnya pori kelenjar keringat. Biasanya timbul bila udara panas dan lembab. Penyumbatan ini aditimbulkan oleh bakteri yang menimbulkan radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar dan diabsorbsi oleh stratum korneum.
1. Miliaria kristalina
Keringat dapat keluar sampai stratum korneum. Terlihat vesikel yang menyerupai titik embun. Biasanya asimtomatis. Vesikel mudah pecah karena gesekan dengan pakaian.
2. Miliaris rubra
Keringat merembes ke dalam epidermis. Terlihat papula, vesikel dan eritema di sekitarnya. Biasanya disertai rasa gatal. Mudah terjadi infeksi sekunder berupa impetigo dan furunkulosis. Lokalisasi penyakit ini ialah di daerah yang tertutup pakaian, terutama di dada dan punggung.

Pengobatan
Prinsip pengobatan adalah mengurangi produksi keringat dan memberi kesempatan agar sumbatan pori itu lenyap sendiri. Sebaiknya penderita tinggal di ruangan yang menggunakan air conditioning atau di tempat yang sejuk dan kering udaranya. Dapat diusahakan penggunaan ventilastor. Terhadap penderita dapat juga diberikan obat antikolinergik yang membuat produksi keringat berkurang, yaitu misalnya prantal, probantine dan sebagainya. Pakaian yang dikenakan harus tipis.
Topikal dapat diberikan bedak kocok yang bersifat mendinginkan dan desinfektan serta anti gatal. Pada penderita misalnya dapat diberikan losio kummerfeldi.

DIARE
Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 perseribu penduduk setahunnya.
Penggunaan istilah diare sebenarnya lebih tepat daripada gastroenteritis, karena istilah yang disebut terakhir ini memberikan kesan seolah-olah penyakit ini hanya disebabkan oleh infeksi dan walaupun disebabkan oleh infeksi, lambung jarang mengalami peradangan.
Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali.

Penyebab
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor infeksi
a. Infeksi bakteri
b. Infeksi virus
2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat, pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktrosa
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan : Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
4. Faktor psikologis : rasa takut dan cemas. Walaupun jarang, dapat menimbulkan diare terutama paa anak yang lebih besar.

Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah :
1. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

Patofisiologi
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi :
1. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) ygmengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik, hipokalemia dan sebagainya).
2. Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah)
3. Hipoglikemia
4. Gangguan sirkulasi darah

Komplikasi
Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi berbagai macam komplikasi seperti :
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)
2. Renjatan Hipovolemik
3. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan pada elektrokradiogram).
4. Hipoglikemia
5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa usus halus.
6. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik
7. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.

Pengobatan
Dasar pengobatan diare adalah :
1. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumat)
2. Dietetik (pemberian makanan)
3. Obat-obatan

INFEKSI
Infeksi Khusus
Kandidiasis (moniliasis)
Epidemiologi
Tersebar luas di seluruh dunia. Dalam beberapa alat tubuh manusia seperti mulut, usus, paru dan vagina. Candida albicans dapat hidup sebagai saprofit. Beberapa faktor seperti prematuritas, pemakaian antibiotika dan atau kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama atau dosis tinggi, gangguan gizi dan diabetes melitus dapat menjadi sebab perubahan hidup candida albicans dari saprofit menjadi parasit. Infeksi jamur ini dapat mengenai semua golongan umur, tetapi mungkin lebih sering terjadi pada masa neonatus dan early infancy.
Gejala Klinis
Dapat terjadi bronkitis, infeksi kulit dan sistematis. Gejala tersering ialah diare, oral trush, onikia, paronikia, dermatitis terutama di daerah aksila, dibawah payu dara dan pada lipatan intergluteal. Gejala infeksi sistemis jarang, tetapi bila terjadi dapat fatal.

Diagnosis
Ditegakkan dengan menemukan yeast (ragi) dan miselium (pseudohifa)

Pengobatan
1. Nistatin (mycostatin®)
2. Fatty acid-Resin complex, dikemukakan oleh Neuhauser (1954) dengan hasil memuaskan.
3. Amfoterisin B
4. Larutan gentian violet (biasanya untuk pengobatan lokal)

Kolera
Kolera merupakan suatu penyakit akut yang menyerang saluran pencernaan dan disebabkan oleh bakteri jenis Vibrio cholerae. Ditandai dengan gajala diare dan kadang-kadang disertai muntah, turgor cepat berkurang, timbul asidosis dan tidak jarang disertai renjatan.
Infeksi terjadi akibat masuknya kuman V. Cholerae melalui mulut bersama-sama dengan makanan atau minuman. Hal ini disebabkan adanya kontak langsung benda-benda tersebut dengan tinja yang mengandung kuman kolera.
Masa : 8-48 jam
Penyakit ini umumnya menyerang penduduk di daerah yang miskin dengan keadaan gizi yang kurang baik, di samping faktor sanitasi lingkungan yang buruk.

Etiologi
Vibrio cholerae (Vibrio Comma)
Merupakan bakteri gram negatif berbentuk koma, bergerak dengan flagelum (single polar flagellum). Tumbuh secara aerob pada medium biasa dengan pH 7,0-9,0. Membentuk asam secara anaerobik dari dekstrosa, sukrosa, amanosa, manitol dan laktosa. Pada arabinosa dan xilosa tidak terbentuk asam. Oleh vibrio O grup I, antibodi bakteri diaglutinasi. Perbedaannya dengan V.eltor ialah terjadi lisis eritrosit kambing, mengglutinasi eritrosit anak ayam dan tahan (tidak terjadi lisis) terhadap mukerjee tipe IV kolerafag, pada V.eltors.
Abdurrachman (1944 dan 1945) membagi V.eltor menjadi 2 tipe, yaitu tipe egyptian (zam-zam) dan tipe sulawesi. Tipe yang disebut terakhir ini dapat mempertinggi morbiditas tetapi tidak menyebabkan epidemi. Fresh (1966) mengatakan bahwa sebagian besar tipe V.eltor ialah tipe Ogawa.

Patogenesis
1. Tertelannya bakteri V. Cholerae dan masuk ke dalam usus halus.
2. Multiplikasi kuman tersebut di dalam usus halus.
3. Bakteri mengeluarkan enterotoksin kolera yang akan mempengaruhi sel mukosa usus halus (menstimulasi enzim adenilsiklase).
4. Sekresi larutan isotonikoleh mukosa usus halus (hipersekresi) sebagai akibat terbentuknya toksin tersebut.
Fungsi aborsi lainnya dari mukosa usus halus tidak terganggu karena mukosa tetap utuh (absorbsi glukosa dan asam amino tetap baik). Dijumpai juga penurunan aktifitas enzim disakaridase.

Patofisiologi
Akibat diare dengan atau tanpa muntah yang disebabkan oleh kolera akan terjadi :
1. Gangguan keseimbangan air (dehidrasi) dan elektrolit.
2. Gangguan gizi (penurunan berat badan dalam waktu singkat)
3. Hipoglikemia (terutama pada anak yang sebelumnya telah menderita malnutrisi).

Gejala Klinis
Semua gejala klinis umumnya merupakan akibat kehilangan cairan tubuh dan elektrolit. Tinja diare tampak seperti air cucian beras atau tajin, kadang-kadang disertai muntah, turgor yang cepat menurut, mata cekung, ubun-ubun besar cekung, pernafasan cepat dan dalam, sianosis, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun, bunyi jantung melemah akhirnya timbul renjatan.

Pengobatan
Prinsip pengobatan ialah :
1. Memperbaiki dehidrasi dan gangguan elektrolit
2. Memperbaiki asidosis dan renjatan (bila terjadi renjatan)
3. Membunuh kuman dengan antibiotika
4. Pemberian makanan peroral yang adekuat segera setelah rehidrasi tercapai.

KONSTIPASI
Konstipasi adalah kondisi di mana feses memiliki konsistensi keras dan sulit dikeluarkan. Masalah ini umum ditemui pada anak-anak. Buang air besar mungkin disertai rasa sakit dan menjadi lebih jarang dari biasa. Pada anak normal, konsistensi feses dan frekuensi BAB dapat berbeda-beda. Bayi yang disusui ASI mungkin mengalami BAB setiap selesai disusui atau hanya sekali dalam 7-10 hari. Bayi yang disusui formula dan anak yang lebih besar mungkin mengalami BAB setiap 2-3 hari. Dengan demikian frekuensi BAB yang lebih jarang atau konsistensi feses yang sedikit lebih padat dari biasa tidak selalu harus ditangani sebagai konstipasi. Penanganan konstipasi hanya diperlukan jika pola BAB atau konsistensi feses menyebabkan masalah pada anak. Umumnya dengan nutrisi yang baik, perbaikan kebiasaan BAB, dan penggunaan obat yang sesuai jika diperlukan, masalah ini dapat ditangani.

Gejala dan Tanda
Konstipasi dapat menyebabkan gejala berikut :
· Sakit perut, BAB mungkin disertai rasa sakit
· Turun atau hilangnya napsu makan
· Rewel
· Mual atau muntah
· Turunnya berat badan
· Noda feses di celana dalam anak
· Mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan robekan kecil pada lapisan mukosa anus (anal fissure) dan perdarahan
· Konstipasi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih
Konstipasi dapat disebabkan oleh :
· Kecenderungan alami gerakan usus yang lebih lambat,
· Nutrisi yang buruk,
· Beberapa obat dapat menyebabkan konstipasi,
· Kebiasaan BAB yang tidak baik,
· Kurangnya asupan cairan.
· Kurangnya aktivitas fisik.
· Adanya kondisi anus yang menyebabkan nyeri,
· Toilet training yang dipaksakan.
· Kadang konstipasi dapat terjadi karena penganiayaan seksual (sexual abuse).

Penanganan
Pada bayi di bawah usia satu tahun, kemungkinan masalah organik yang mungkin menyebabkan konstipasi harus diteliti dengan lebih cermat, terutama apabila konstipasi disertai gejala lain seperti:5
· Keluarnya feses pertama lebih dari 48 jam setelah lahir, kaliber feses yang kecil, gagal tumbuh, demam, diare yang diserai darah, muntah kehijauan, atau terabanya benjolan di perut
· Perut yang kembung
· Lemahnya otot atau refleks kaki, adanya lesung atau rambut di punggung bagian bawah
· Selalu tampak lelah, tidak tahan cuaca dingin, denyut nadi yang lambat
· Banyak BAK, banyak minum
· Diare, pneumonia berulang
· Anus yang tidak tampak normal baik bentuk maupun posisinya
Lebih dari 95% konstipasi pada anak di atas satu tahun adalah konstipasi fungsional (tidak ada kelainan organik yang mendasarinya).5 Umumnya masalah ini dapat ditangani dengan cara sebagai berikut:2

Kebiasaan BAB yang baik
· Anak yang mengalami konstipasi harus dilatih untuk membangun kebiasaan BAB yang baik.2 Salah satu caranya adalah dengan membiasakan duduk di toilet secara teratur sekitar lima menit setelah sarapan, bahkan jika anak tidak merasa ingin BAB. Anak harus duduk selama lima menit, bahkan jika anak telah menyelesaikan BAB sebelum lima menit tersebut habis.
· Anak juga harus belajar untuk tidak menahan keinginan BAB. Kadang anak mengalami kekhawatiran jika harus menggunakan toilet di sekolah. Jika orang tua mencurigai adanya masalah tersebut, orang tua hendaknya membicarakan masalah tersebut dengan anak maupun pihak sekolah.


Makanan tinggi serat
· Serat membuat BAB lebih lunak karena menahan lebih banyak air dan lebih mudah untuk dikeluarkan. Memperbanyak jumlah serat dalam makanan anak dapat mencegah konstipasi. Beberapa cara untuk memenuhi kebutuhan serat anak adalah :
· Berikan minimal 2 sajian buah setiap hari. Buah yang dimakan beserta kulitnya, misalnya plum, aprikot, dan peach, memiliki banyak kandungan serat.
· Berikan minimal 3 sajian sayuran setiap hari.
· Berikan sereal yang tinggi serat sepert bran, wheat, whole grain, dan oatmeal. Hindari sereal seperti corn flakes.
· Berikan roti gandum (wheat) sebagai ganti roti putih.
Banyak minum dapat mencegah konstipasi. Biasakan anak untuk minum setiap kali makan, sekali di antara waktu makan, dan sebelum tidur. Namun perlu diperhatikan bahwa terlalu banyak susu sapi atau produk susu lainnya (keju, yogurt) justru dapat mengakibatkan konstipasi pada sebagian anak.

Laksatif
· Laksatif mungkin dibutuhkan untuk menangani konstipasi.
· Jus prune
· Psyllium husk (salah satu merknya adalah metamucil).
· Senokot (senna).
· Durolax (bisacodyl).
· Coloxyl (docusate).
· Agarol (parafin cair dan fenoftalein).
· Parachoc (parafin cair dengan rasa coklat-vanila).
Perlu diingat bahwa penggunaan laksatif jangka panjang dapat berbahaya bagi anak. Karena itu, laksatif hanya boleh digunakan dengan pengawasan dokter dan sesuai dosis yang diberikan.

Supositoria
Enema
Irigasi usus

KEMATIAN MENDADAK PADA BAYI
Sebuah gen yang membantu mempertahankan otak bisa bekerja dengan baik mungkin berperan penting untuk mengerti mengapa kematian mendadak pada bayi itu terjadi.
Penelitian di Edinburgh kini sedang menyelidiki kemungkinan seorang balita menjadi korban dari kondisi ketika otak mereka kurang mampu untuk mengatasi perubahan lingkungan yang tidak terduga seperti infeksi atau kepanasan.
Kematian mendadak pada bayi setiap tahunnya menelan 400 hingga 500 bayi di Inggris.
Peneliti di departemen patologi di RSU Western di Edinburgh meneliti apakah partikuler berbentuk gen lebih banyak ditemukan pada bayi yang menjadi korban dari kematian mendadak, dibandingkan balita yang meninggal karena sebab-sebab lainnya.
Dr Angus Gibson, ketua Yayasan Kematian Mendadak pada bayi Scotlandia mengatakan, "Hingga sekarang riset mengenai kematian mendadak pada bayi gagal menjelaskan mengenai mengapa bayi meninggal. Riset genetik mungkin menjadi jalan untuk menemukan penyebabnya dan bisa menolong nyawa banyak anak-anak di masa mendatang.
Bayi paling rentan terhadap kematian itu ketika usia mereka satu dan tiga bulan dan 83% kejadian fatal biasanya ketika mereka berusia enam bulan. Kebanyakan terjadi pada musim dingin dan bayi laki-laki yang paling banyak jadi korban dibandingkan yang perempuan.
Para orang tua bisa mengurangi risiko ini dengan jalan meletakan posisi bayi tidur telentang, dengan tanpa tutup kepala dan kakinya diletakkan rata dengan tubuh.

SIDS kependekan dari Sudden Infant Death Syndrome jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya sindrom kematian bayi mendadak. SIDS hingga kini belum diketahui secara pasti apa penyebabnya namun biasa terjadi pada bayi berusia di bawah 1 tahun. SIDS juga biasa dikenal dengan sebutancrib death atau kematian ranjang karena kebanyakan kasus SIDS terjadi ketika bayi berada di ranjangnya. Tetapi bukan berarti ranjang (crib) yang menjadi penyebab kematian mendadak ini (SIDS).
Beberapa kesimpulan para dokter dan perawat berkenaan dengan sindrom kematian bayi mendadak ini antara lain:
· SIDS adalah penyebab utama kematian bayi berusia antara 1 s/d 12 bulan.
· Sebagian besar kematian SIDS terjadi pada bayi berusia di bawah 6 bulan.
· Bayi dengan posisi tidur tengkurap di atas perutnya lebih beresiko mengalami kematian akibat SIDS dibandingkan dengan bayi yang tidur dengan posisi terlentang.
· Bayi cenderung untuk mengalami kematian akibat SIDS apabila diletakkan di kasur yang terlalu empuk atau terselimuti kain yang lembut.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi resiko kematian akibat SIDS ini adalah:
· Selalu letakkan bayi Anda dalam posisi terlentang ketika ia sedang tidur, walaupun saat tidur siang.
· Gunakan kasur atau matras yang rata dan tidak terlalu empuk.
· Jauhkan berbagai selimut atau kain yang lembut,
· Pastikan wajah dan kepala bayi Anda tidak tertutup oleh apapun selama dia tidur.
· Jangan biarkan siapapun merokok di sekitar bayi Anda terutama Anda sendiri.
· Jangan biarkan bayi Anda kepanasan atau kegerahan selama dia tidur.

No comments:

Post a Comment

Clik Iklan Dapet Uang...!! Buruan....!!!!!

Mau Belanja Buku....???


Masukkan Code ini K1-9D854D-1
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com